25/02/2008

Ketika harus membawa hewan peliharaan ke rumah sakit

Seorang teman saya tersenyum simpul ketika saya mengatakan bahwa saya hendak menjenguk anjing saya yang dirawat di Rumah Sakit Hewan Ragunan. Ini masih reaksi yang wajar.  Yang lain malah tertawa dan mengatakan “Yang benar saja?”  Ketika saya meyakinkan dia bahwa saya tidak berbohong, responsnya lagi “Seperti manusia saja.”

Ada yang lebih tercengang ketika saya mengatakan biaya pengobatan di rumah sakit yang telah mencapai 7 digit. Salah seorang merespon “Buang-buang uang saja. Anjing seperti itu dibuang saja.” 

Saya membeli anjing di tempat yang salah.  Di sekitar Menteng dimana berkumpul banyak sekali penjual anjing dan kucing.  Saya membeli seekor anak anjing yang menurut pengakuan penjualnya adalah Golden Retriever. Bila dia asli, ketimbang membeli di pet shop yang harganya jutaan, di sini masih berbunyi ratusan ribu.

Dua hari saja anak anjing itu di rumah dan dia mulai sakit.  Di sinilah saya kembali akrab dengan Pondok Pengayom Satwa. Letaknya tak jauh dari Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan.  Pondok Pengayom Satwa bukan rumah sakit, dia sebenarnya lebih berfungsi sebagai penampungan dan penitipan hewan.  Bila hendak bepergian untuk waktu yang lama, hewan peliharaan bisa dititipkan dan mereka akan mendapatkan perawatan yang layak. 

Di sini juga terdapat klinik.  Ke klinik itu tujuan saya. Setelah diagnosa bahwa anjing saya kemungkinan besar menderita parvo virus, anjing saya diputuskan untuk dirawat dan di infus.  Tidak mahal uang muka yang diberikan, sekitar Rp. 350.000,- untuk perkiraan perawatan tiga hari. Biaya perawatan per hari untuk anjing kecil Rp. 40.000,- (termasuk dokter dan makan).

Masuk hari Selasa dan anjing saya keluar hari Sabtu. Dia sudah kelihatan segar dan mau makan.  Sayangnya, setiba di rumah, dia kembali menunjukan gejala awal, muntah dan tak mau makan. 

Karena sudah sore dan Pondok Pengayom sudah tutup, saya membawanya ke rumah Sakit Hewan yang lokasinya di belakang Pondok Pengayom Satwa. Dokter di sana langsung memutuskan untuk dirawat di ruang isolasi. Kali ini, infusnya dijatah hanya ¼ botol sehari.

Harga di sini sedikit lebih tinggi.  Biaya perawatan per hari sekitar Rp. 70.000,-.  Jam jenguk sedikit lebih longgar.  Saya bisa mengunjunginya di malam hari. Selalu ada dokter hewan yang stand by 24 jam di sini, bahkan pada hari libur sekalipun. 

Di ruang isolasi, selain anjing saya, ada seekor anjing yang terinfeksi kencing tikus, distemper dan lainnya. Tiap kali saya berkunjung, saya bisa berkonsultasi dengan dokter mengenai perkembangan anjing saya. Dokter biasanya datang dengan lembar medical record (seperti di rumah sakit manusia) yang lengkap dengan data, jumlah makanan yang dimakan, buang air, suhu tubuh, muntah dan lain-lain.

Setelah seminggu, anjing saya diperbolehkan pulang.  Anjing yang awalnya diduga tak berumur lebih dari dua hari sejak sakit itu bertahan hidup dengan perawatan yang baik.  Dia sekarang sangat sehat dengan selera makan dan mobilitas yang sangat tinggi. 

Awalnya, saya agak pesimis, karena anjing saya sudah muntah dan buang air darah.  Dengan vonis bahwa penyakit ini tak ada obatnya (parvovirus hanya bisa dikalahkan oleh ketahanan tubuh), saya pikir bahwa dia akan “tidur” selamanya. Apalagi ketika pulang dari Pondok Pengayom dan dia kembali lemas dan tak mau makan dan minum, nyaris putus asa. Tiga hari dirawat di Rumah Sakit, kondisinya meningkat, tapi pada hari keempat dia kembali lemas dan suhu tubuhnya menurun sehingga dipasang lampu penghangat di kandang perawatannya.

Banyak orang memilih untuk membiarkan saja peliharaan yang sakit.  Bisa karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, atau bisa jadi karena cuek. 

Tunangan saya mengatakan seperti ini mengenai perawatan medis bagi hewan “Pada dasarnya, hewan hidup di alam dengan mekanisme pertahanan dirinya.  Dengan dia tinggal di rumah, dia menggantungkan hidup sepenuhnya pada kita.”

Hewan memang tak bisa membuat pilihan bagi dirinya sendiri untuk berobat ke rumah sakit atau tidak. Karena tidak mengerti, mereka mungkin malah akan memberontak ketika diobati (sama seperti anjing saya yang dengan sukses menggigiti infusnya sampai lepas). Manusia, tuan atau apalah namanya, yang kemudian sangat menentukan, apakah peliharaan tersebut bisa diupayakan untuk kembali sehat. 

Sekarang, meski masih kecil, anjing saya menyambut saya di depan pintu ketika saya pulang kantor malam hari.  Dia mengibaskan ekornya dengan cepat menandai bahwa dia senang melihat saya lagi.  Dan tiap kali melihatnya, saya senang bahwa saya dan tunangan saya memutuskan untuk memasukkan dia ke rumah sakit. Menurut kami, itulah pilihan yang paling bijak.

13:29 Posted in Pet | Permalink | Comments (0) | Email this