« Mon 14 Apr - Sun 20 Apr | HomePage | Mon 16 Jun - Sun 22 Jun »

25/04/2008

Suara Malaikat dari Ambon

DSC01458.JPGNamanya Frans.  Tingginya tak sampai semeter. Wajahnya yang khas Ambon dengan kulit gelap dan rambut ikal memancarkan senyum polosnya. Dia bergoyang ke kanan dan ke kiri sambil bernyanyi.

            Di sekitarnya, puluhan anak dengan etnis yang sama namun dengan postur yang jauh lebih tinggi menyenandungkan lagu terkenal Josh Groban; ”You raise me up, so I can stand on mountain; You raise me up to stand on stormy seas; I’m strong when I’m on your shoulder; You raise me up to more than I can be.”

            Voice of Angel bukan sekedar nama “tempelan” untuk mereka. Kelompok anak ini memiliki suara indah bukan sekedar polesan sekolah vokal.  Mereka memiliki suara alamiah dengan timbre daerah yang kental. Tinggi dan bersih bak suara malaikat.

            Pada Jumat (25/04) siang mereka mengisi di Ibadah Perayaan Paskah Mahkamah Agung dan Peradilan RI di GPIB Immanuel, Gambir.  Beberapa lagu mereka nyanyikan, seperti Wonderful Day, Satukan Kami Tuhan dan This is the Day. Semua lagu dibawakan dengan hafal dan dengan gerakan.

            Tapi bukan sekedar suara indah yang membuat orang-orang (termasuk laki-laki) meneteskan air mata ketika mereka bernyanyi.  Justru kisah latar belakang mereka yang merenyuhkan hati.

            Ke-43 anak yang tinggal di Yayasan Pniel Bintaro ini berasal dari Ambon.  Mereka adalah para korban kerusuhan yang kehilangan keluarga karena meninggal atau karena terpencar tak jelas rimbanya.

            Salah seorang pendamping yayasan menyatakan bahwa ada di antara mereka yang menyaksikan keluarganya dibantai di depan matanya.  Mereka melarikan diri dan bersembunyi. Ada relawan yang tergerak dan kemudian mencari anak-anak yang sudah tak berkeluarga ini.  Sebagian dari mereka masih bersembunyi di hutan-hutan yang tak mudah dijangkau.

            Mereka dibawa ke Jakarta dan dikumpulkan di Yayasan Pniel dan diupayakan untuk kembali dibawa ke kehidupan normal dengan sekolah kembali. Namun masalah tak semudah itu selesai.  Mereka dibawa pergi dari kampung halamannya, tempat di mana sebelumnya mereka tumbuh dengan damai, dengan luka hati yang mendalam.

Kehilangan orangtua dan keluarga tidak mudah untuk mereka atasi. Apalagi ketika mereka harus berada di tengah sekolah negeri di Jakarta yang multi kelompok.  Sakit hati pada kelompok tertentu tak begitu saja dipulihkan dan membuat mereka suka menjaga jarak sosial dengan teman-temannya.

            Yayasan mencari cara jalan untuk mencarikan aktivitas untuk menyembuhkan luka batin mereka. Terapi musik menjadi pilihan untuk mengalihkan perasaan terluka karena kehilangan keluarga dan trauma kerusuhan. Tiap hari mereka berlatih bersama dan seringkali sampai tengah malam. Namun mereka menikmati kebersamaan dan latihan-latihan tersebut.   Suara alamiah mereka yang pada dasarnya memang indah menjadi semakin terasah dengan latihan rutin. Nyanyian menjadi obat yang manjur. Perlahan, normalitas hidup mulai kembali pada mereka.

            Latar belakang hidup mereka ini yang mungkin menjadikan mereka benar-benar tampak menghayati lagu-lagu yang mereka bawakan.  Seolah itulah memang pernyataan perasaan yang terdalam. Hampir semua lagu yang mereka bawakan bertemakan kesatuan, kasih sayang sesama manusia, perdamaian dan ungkapan syukur pada Tuhan bahwa meski tak memiliki orang tua mereka tetap memiliki Tuhan (Tuhan Ganti Papa Deng Mama).

            Keberadaan mereka di tengah-tengah Paskah Mahkamah Agung memang seperti pengingat.  Pengingat bahwa dalam kondisi apa pun mereka tetap memiliki Tuhan yang selalu memberikan harapan dan tetap berpikir positif mengenai hidup dan mengasihi sesama.

            Menyambung lagu mereka, Pdt. Pandjaitan memulai khotbahnya bagai para praktisi hukum Indonesia dengan menyatakan ”Adakah senandung suara malaikat yang indah (Voice of Angel) menggerakkan kita untuk bangkit melayani, menegakkan kebenaran di tengah masyarakat?”

            Di  dunia di mana kebenaran semu kelompok-kelompok tertentu ada di permukaan, mereka malaikat pengingat bahwa hakekat dari kebenaran adalah untuk perdamaian hidup bersama.

 

Camelia Pasandaran 

06:05 Posted in Articles | Permalink | Comments (0) | Email this

24/04/2008

Orangtua dan pemanasan global

“Global Warming? Itu bukan hal yang penting. Kalau anak-anak kita pergi dengan bus tanpa AC, maka anak-anak kita yang akan kena polusi.”
Kata-kata ini diucapkan oleh seorang Ibu di SD Strada Wiyatasana Pejaten Rabu (23/04) siang, ketika sedang membahas mengenai rencana kepergian siswa kelas IV untuk karyawisata ke beberapa tempat di Jakarta.
Ibu ini mengenakan celana panjang dengan bahan beludru coklat. Dia mengenakan jaket tebal dan kacamata hitam. Dari penampilannya, terlihat jelas bahwa Ibu ini berusaha menampilkan diri untuk masuk dalam kategori golongan berada. Dan yang tampak jelas, tak mungkin Ibu ini bepergian ke mana-mana dengan bus kota atau mobil tanpa AC.
”Pikirkan dong keamanan anak-anak. Nanti kalau mereka mengeluarkan kepalanya dari jendela bagaimana? Belum lagi sekarang musim hujan. Kalau hujan, jendela mesti ditutup dan busnya akan menjadi pengap. Kasihan mereka. Nanti malah pada sakit semua,” lanjut Ibu itu berapi-api.
Tidak kalah pamor, seorang Ibu muda lainnya menyambung “Iyalah. Yang penting kenyamanan anak-anak. Satu dua bus kan tidak berpengaruh terhadap polusi.”
Salah seorang koordinator kelas menimpali “Iya, kami akan segera menghadap kepala sekolah dan meminta dia untuk mengganti busnya menjadi bus AC. Kalau memang sekolah tidak punya anggaran, biar nanti orang tua yang menalangi.”
Rencana karyawisata siswa kelas IV ini ternyata memang menjadi pembahasan ramai di sekolah itu. Guru yang mengkoordinir acara ini menyatakan alasan yang masuk akal untuk menggunakan bus tanpa AC.
“Anak-anak kelas IV di pelajaran IPA dan IPS sedang dididik untuk memiliki kepekaan terhadap global warming. Jadi rencana saya, pada hari itu, saya bisa mengatakan pada mereka ‘Anak-anak, hari ini kita lebih ramah terhadap bumi,’” papar sang Ibu Guru.
Penjelasan ini tidak bisa diterima oleh ibu-ibu yang berkeras menghendaki anak-anak mereka naik bus AC. Mereka pun menghadap kepala sekolah. Sayangnya, Kepala Sekolah ini punya sikap yang tidak konsisten dengan rencana edukasi dari guru koordinator karyawisata kelas IV.
”Saya rasa bukan global warming yang jadi pertimbangan. Ini memang masalah anggaran kok. Tapi kalau Ibu-ibu bisa mencarikan jalan keluar tanpa harus membebani orangtua, ya silakan saja kalau mau mengganti dengan Bus AC,” tutur Ibu Kepala Sekolah.
Para Ibu ini dengan wajah puas keluar dari ruangan Kepala Sekolah. Mereka kemudian merundingkan bagaimana mengatur dengan guru yang mengkoordinir karyawisata dan agen perjalanan yang digunakan.
Sulit untuk membayangkan hasil dari pendidikan mengenai global warming di sekolah bila tidak didukung oleh keluarga yang mau membuka mata lebar-lebar untuk menyadari bahwa dunia ini masih akan ditempati oleh anak cucu yang akan sengsara bila bumi ini tidak dipelihara.
Bukan hal yang terlalu sulit untuk memerangi emisi dan berbagai bentuk polutan yang dihasilkan oleh negara-negara industri. Yang justru lebih sulit adalah memerangi keegoisan orang-orang (yang menyebut diri orang tua) untuk sedikit saja mengurangi derajat kenyamanan demi keberlangsungan lingkungan yang cukup layak untuk tetap ditinggali manusia.
Sama sulitnya untuk juga memerangi orang yang berpikir bahwa apa yang dilakukannya tidaklah cukup signifikan untuk mengurangi global warming. Orang seperti ini tidak memperhitungkan akumulasi dari tindakan banyak individu yang berpikiran sama piciknya.
Dalam hal ini, pendidikan mengenai global warming mungkin lebih baik diarahkan dulu untuk generasi tua yang akan mewariskan sikap mereka terhadap alam pada generasi muda.
Ketika orang tua memikirkan soal kenyamanan anak-anak yang akan berkaryawisata, mungkin anak-anak tersebut justru malah tidak peduli apakah bus yang mereka tumpangi ber-AC atau tidak. Yang penting bagi mereka justru mungkin bepergian bersama teman-teman ke berbagai obyek yang dikunjungi.
Pada usia rata-rata sembilan dan sepuluh tahun, mereka juga tidaklah cukup bodoh untuk mengeluarkan kepala mereka keluar jendela. Sehingga kekuatiran para ibu tadi sesungguhnya hanyalah cerminan dari pemikiran dangkal yang tak bisa melihat bahaya global yang jauh lebih besar yang sudah ada di depan mata.
Mungkin di sekolah perlu ada kelas tambahan untuk orang tua untuk mereka mengikis keegoisan mereka dan membuka kepekaan mereka terhadap lingkungannya.

07:25 Posted in Articles | Permalink | Comments (0) | Email this