HomePage | Mon 16 Jun - Sun 22 Jun »
15/01/2008
Opera Cinta Seniman Bohemian
Camelia Pasandaran
“Betapa dinginnya tangan mungil ini, biarkan aku menghangatkannya. Apa yang kau cari, gadis? Dalam gelap kita tak kan menemukannya. Tetapi beruntung ini malam bulan purnama, dan di sini bulan itu dekat kita”
Rodolfo (Charles Nasution), sang penyair, menyanyikan lagu ini untuk Mimi (Christine T. Lubis), seorang penjahit yang tinggal di kota Paris pada malam Natal tahun 1830.
Lagu yang mengawali kisah cinta mereka menjadi salah satu lagu terkenal dari opera karya Giacomo Puccini yang berjudul La Boheme yang dipentaskan oleh Susvara Opera Company diiringi Twilight Youth Orchestra di Gedung Kesenian Jakarta, 4-5 Desember lalu.
Opera yang terkenal dengan kompleksitas dan keindahan lagunya ini mengisahkan mengenai percintaan Mimi dan Rodolfo. Kehidupan mereka dihangatkan oleh pertemanan akrab dengan Colline (filsuf), Schaunard (musisi), Marcello (pelukis) dan pacarnya Musetta.
Babak pertama mengisahkan kehidupan mereka sebagai rakyat jelata. Namun mereka selalu bisa mengakali kesulitan hidup seperti membuat pemilik apartemen mabuk sehingga lupa menagih uang sewa. Begitu sang pemilik apartemen pergi, mereka pun merayakan Natal bersama dengan minum-minum di Cafe Momus. Di sinilah Rodolfo dan Mimi menyanyikan duet mereka yang terkenal O Soave Fanciulla (wahai gadis cantik).
Di Cafe Momus, justru cerita lebih banyak berfokus pada kehidupan cinta Musetta dan Marcello. Musetta berupaya memancing kecemburuan Marcello mantan pacarnya dengan datang bersama Alcindoro, seorang kaya raya. Di sini Musetta (Anastasya P. Suryaningtyas) membawakan aria waltz-nya yang berjudul Quando m’en vo’ per la via (Disaat aku sedang berjalan seorang diri) yang mengisahkan betapa banyak orang mengagumi Musetta. Mereka pun saling melempar sindiran satu sama lain. Adedan ini berakhir dengan mereka berdua kembali bersama dan pelayan cafe yang memberikan tagihan minuman. Musetta dengan santainya mengatakan pada pelayan bahwa Alcindoro yang akan membayar. Alcindoro pingsan ketika tahu dia telah diperalat.
Keindahan cinta yang diwarnai dengan aria-aria panjang, duet, trio dan kuartet yang indah tidak berakhir lama. Mimi yang selama ini berupaya keras menyembunyikan sakitnya akhirnya tak lagi kuasa menahan sakitnya.
Mengawali babak ketiga, Mimi datang ke penginapan Marcello untuk menceritakan penderitaannya itu. Pada saat yang bersamaan, Rodolfo datang dan Mimi segera bersembunyi. Mimi mencuri dengar Rodolfo yang menyatakan kekuatirannya bila Mimi masih tinggal di loteng Rodolfo yang dingin dan lembab hanya akan membuat dia semakin sakit. Batuk Mimi menyadarkan Rodolfo bahwa Mimi bersembunyi di situ. Mimi keluar dan menyanyikan Donde lieta usci (tempat dimana kebahagiaan muncul). Mereka berpisah dengan menyanyikan Addio dolce svegliare (selamat tinggal, saat bangun tidur yang indah) dengan harapan bahwa pada musim semi mendatang mereka akan bersama lagi.
Babak penutup mengisahkan akhir hidup dari Mimi di loteng apartemen. Ditemani sahabat dan kekasihnya, dia menyanyikan aria Vecchia zimarra (wahai jubah tua) untuk jubahnya yang selama ini telah menemani dia dalam kesendiriannya. Setelah teman-temannya meninggalkan dia berdua saja dengan Rodolfo, Mimi menyampaikan perasaannya untuk terakhir kalinya: ”come il mare profonda ed infinita, sei il mio amor e tutta la mia vita” (seperti laut yang dalam dan abadi, kamu cintaku dan sepanjang hidupku).
Rangkaian musik melodrama ini diadaptasi dari novel karya Henry Murger yang berjudul Scene de la vie de boheme. Puccini menggubahnya menjadi opera dan dipentaskan pertama kali di Turin tahun 1869. Opera ini membuat Puccini dikenal sebagai komposer opera karena kelengkapan operanya yang terdiri dari empat babak, sejalan dengan empat bagian dari sebuah simfoni yang penuh dengan semua karya terbaik Puccini.
Catharina W. Leimena, pengarah artistik untuk pertunjukan ini memilih La Boheme karena keindahan karya ini. ”La Boheme merupakan salah satu karya yang luar biasa. Musiknya dibuat khusus untuk musik pertunjukkan. Saya tertantang untuk mencoba meski kesulitannya banyak. Opera ini terdiri jalinan dari melodi yang berat dan kompleks.”
Susvara Opera Company di bawah bimbingannya, mempersiapkan opera ini sejak April 2007. Ini adalah pementasan opera mereka yang digarap secara matang setelah sempat berkesperimen dengan menyanyikan penggalan opera karya Mozart dalam Cactch a Glimpse of Mozart’s Opera dan pada awal tahun ini mementaskan opera Fidelio karya Beethoven yang ceritanya telah dipersingkat.
Ivonne Atmojo, praktisi pendidikan musik, yang menonton pertunjukkan tersebut mengaku gembira menyaksikan pertunjukan karya Susvara ini.
“Seluruh pertunjukan sangat menyatu, mulai dari tata cahaya, panggung, pemain dan orkestranya. Untuk ukuran Indonesia , pertunjukan mereka sempurna,” kata Ivonne.
Ia juga menilai Twilight Youth Orchestra yang mengiringi pertunjukan di bawah pimpinan Eric Awuy telah memberikan musik yang prima. Meski Ivonne masih beberapa kali mendengar kesalahan dalam permainan musik, namun untuk sebuah orkestra yang belum lama berkembang orkestra ini sudah cukup baik penampilannya.
Christine Lubis, juga terlihat sangat baik memerankan tokoh Mimi meski dia sendiri mengaku cukup sulit memainkan opera ini. “Ada banyak hal yang harus diperhatikan di sini. Bukan sekedar menyanyi saja, tapi juga acting, (stage) blocking dan mendengarkan orkestra. Ini semua memerlukan konsentrasi yang tinggi.”
Charles, sang pemeran Rodolfo justru melihat tantangan opera ini ada pada lagu-lagunya. “Puccini itu merupakan komposer era klasik akhir, jadi karya diperuntukan untuk penyanyi-penyanyi yang mempunyai teknik vocal tertentu. Saya agak gugup takut nada-nada tingginya tidak sampai. Ini adalah opera Puccini yang paling sulit di antara opera yang lain dengan teknik musik yang tinggi.”
Sebagai penyanyi berpengalaman, secara vokal tentunya mereka tidak menemukan masalah besar dalam membawakan karya Puccini. Yang justru menjadi hambatan adalah faktor bahasa dimana libretto yang dinyanyikan semuanya dalam bahasa Italia. Masalah yang sama ketika Susvara membawakan opera Fidelio dalam bahasa Jerman.
“Mereka masih terdengar beraksen (Indonesia ). Greget Italia belum keluar. Yang sulit ketika bernyanyi bukan sekedar teknik vokal, tapi pelafalan kata. Meski tidak mempelajari bahasa setidaknya pemain harus bisa belajar membawakannya dengan pelafalan yang benar,” kata Ivonne mengomentari teknik mereka.
Opera dalam bahasa Italia ini juga menjadi kesulitan tersendiri bagi penonton yang tak menguasai bahasa daratan Eropa itu. Untungnya Susvara sudah mengantisipasi dengan menghadirkan seniman dan aktris kawakan, Jajang C. Noer, yang membawakan narasi pertunjukan di tiap awal adegan.
Penonton pun sangat antusias merespon opera ini. Beberapa hari menjelang pertunjukan, tiket untuk dua hari pertunjukan sudah terjual habis. Tradisi opera yang belum banyak berkembang di Indonesia memang membuatLa Boheme daya tarik yang luar biasa.
Paling tidak, warga Jakarta yang minim pertunjukan opera klasik yang berkualitas bisa menikmatinya di dua malam itu dan hanyut dalam rangkaian musik yang menarasikan indahnya cinta dan penderitaan, seperti yang dituturkan Puccini: “If only I could find my subject, a subject full of passion and pain.”
07:51 Posted in Event Review | Permalink | Comments (0) | Email this
NSO : The Messiah
Camelia Pasandaran
Investor Daily
”Ayo bernyanyi bersama. Jangan kuatir dengan tempo, karena saya akan memimpin kalian.”
Gábor Hollerung, dirigen konser bertajuk Christmas Celebration mengajak seluruh penonton untuk bernyanyi bersama dengan paduan suara diiringi Nusantara Symphony Orchestra.
“Pertama-tama, saya ingin kalian mencoba Silent Night,” ujarnya. Lalu dia mulai menggerakan tongkatnya dan memimpin penonton bernyanyi bersama. Lagu belum berakhir ketika dia memberhentikan penonton dan mengatakan “inilah bedanya penyanyi profesional dan amatir,” sambil menunjuk penonton dan paduan suara bergantian dengan tongkat dirigennya. Penonton pun tertawa.
Hollerung tidak menyerah. Dia lalu mengajak penonton menyanyikan Auld Lang Syne dengan iringan NSO yang bergaya jazz. Lagi-lagi dia menghentikannya dan mengatakan ”Ini tidak cocok. Kalian harus bisa menyanyikannya dengan ritme jazz.” Ketika diulang kembali, penonton mulai bisa mengikutinya dan Hollerung menyatakan ”good rythmic!”
Tidak sampai di situ, dia kembali melatih penonton menyanyikan lagu negro spiritual Mary Had a Baby. Kali ini, dia mengajak penonton memainkan peran yang berbeda. “Imagine a black fat girl singing this song.” Dia pun mencontohkannya dengan menyanyi bak penyanyi dari daratan Afrika dengan suara berat dan keras.
Penonton pun mulai hanyut dalam latihan untuk bernyanyi bersama dalam konser. Seperti pertunjukan musik pop, penonton pun ikut terbawa suasana dan menyanyikan lagu tersebut dengan gaya negro spiritual.
Konser seperti ini mungkin jauh dari bayangan para penonton ketika pertama kali menghadiri konser Nusantara Symphony Orchestra hari Senin lalu di Grand Ballroom Hotel Mulia. Di spanduk dan buku acara tertera nama sebuah oratorio terkenal karya komponis Italia G.F. Handel, The Messiah dan International Christmas Carol.
Ketika konser mulai di awal dengan lagu-lagu oratorio The Messiah, tidak ada tanda-tanda bahwa konser akan berubah suasana dengan drastis. Suasana kemegahan dari oratorio Handel membangun suasana yang sangat khidmat.
The Messiah, karya yang meski sangat terkenal dan sudah ribuan kali di mainkan di berbagai panggung dunia, bukanlah suatu oratorio yang mudah. Meski diciptakan hanya dalam waktu 24 hari oleh Handel, oratorio spiritual ini memerlukan teknik yang memadai dari para pemain orchestra dan paduan suara yang terlatih untuk bisa membawakannya dengan baik.
”Semua tuntutan teknik untuk orkestra harus mendukung. Ini tidak mudah, walau diulang beberapa kali. Meski mementaskan The Messiah adalah seperti bertemu dengan teman lama, ada beberapa hal yang harus dilatih kembali,” papar Edward Van Nes, dirigen tetap dari NSO.
Penampilan mereka memang membuktikan hasil kerja keras. Yang sungguh layak untuk dipuji adalah komposisi suara yang menyatu dengan sangat baik. Tidak ada instrumen yang terlalu dominan.
Tiga paduan suara Nusantara Choir, Twilight Chorus dan Indonesia Youth-Cordana Choir terlihat sempurna membawakan lagu-lagu naratif dalam oratorio yang megah ini. Keindahan oratorio dilengkapi dengan kehadiran empat orang solois, soprano Binu D. Sukaman, Mezzo Soprano Anna Koor Chooi Choo, penyanyi tenor Ndaru Darsono dan penyanyi bas Harland P. Hutabarat.
Ketika lagu terkenal dalam oratorio ini Halleluyah-chorus dibawakan sebagai penutup bagian pertama, seorang penonton sempat berkomentar ”seperti mendengar paduan suara malaikat dari surga.” Tidak berlebihan memang komentarnya, karena memang penampilan mereka sangat prima. Handel pasti sangat bangga melihat bagaimana karyanya dipentaskan dengan begitu megahnya.
Lepas dari bagian pertama, penonton diberikan kejutan. Lagu-lagu magnificat karya Bach dibawakan dengan aransemen ulang gaya jazz. Tidak ada masalah dengan gaya lagunya, kecuali bahwa drum yang begitu mendominasi sehingga menenggelamkan nyanyian paduan suaranya.
Bagian dengan musik yang keras ini tidak berlangsung lama. Tiga saja lagu Bach yang dibawakan dan kemudian berganti bagian International Christmas Carol. Di awal bagian inilah Hollerung melatih penonton untuk menyanyi bersama.
Belasan lagu Natal tradisional yang terkenal dibawakan di sini. Suasana menjadi sangat meriah ketika di beberapa bagian dirigen membalikkan punggungnya dan menyanyikan tiga lagu-lagu yang sudah dilatih di awal.
Bagian ini dikemas dengan kreatif. Musik yang dibawakan pun sangat dinamis. Bunyi-bunyian perkusif seperti bunyi bel memberikan efek yang baik pada beberapa lagu seperti Silent Night, What Child is This dan Deck the Hall. Iringan alat musik gesek yang mengalun panjang mengiring O Tannenbaum (O Christmas Tree). Sebuah lagu Advent Veni Veni Emmanuel dilantunkan dengan gaya klasik. Pada lagu Auld Lang Syne malah dibuat kanon antara paduan suara di panggung dengan penonton.
Di berbagai lagu tersebut para solois juga ikut mengisi, seperti pada lagu Ala Huella, Alla Huella, Mary Had a Baby dan What Child is This.
Bagian terakhir ini ditutup dengan empat lagu berturut-turut Venite Adoremus, Nowell, Nowell, We Wish You A Merry Christmas dan Joy to the World.
”Encore! Encore!” seruan penonton yang meminta lagu tambahan disambut dengan Halleluyah-chorus yang dinyanyikan dengan aransemen yang lebih ringan.
Keterlibatan aktif penonton dalam konser ini memang membuat penonton terlihat sangat menikmati konser. Menurut Van Nes, bagian sing along ini tidak dipersiapkan.
”Itu spontanitas. Kira-kira lima menit sebelum pertunjukkan, Miranda (Goeltom) datang pada saya dan mengusulkan bagaimana kalau sing along? Kami memilih tiga lagu.”
Tapi ide sing along ini menurut dirigen tamu Gábor Hollerung adalah positif sebagai bagian dari edukasi dan menarik penonton konser.
”Saya percaya bahwa penonton memiliki mental yang berbeda jika mereka menjadi bagian dari konser. Jangan dilupakan bahwa konser sebagai sebuah institusi tidaklah terlalu tua. Sebelumnya, orang bernyanyi bersama-sama. Baru sekitar 700 tahun yang lalu tradisi konser berjalan. Ada komposer, ada yang menginterpretasikan, ada penonton yang membeli tiket dan mendengarkan musik,” tutur Hollerung.
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa hal ini tidak alamiah. ”Penonton bisa menjadi bagian dari konser dan memahami konser yang sedang berlangsung. Mungkin awalnya terlihat seperti sebuah lelucon tapi ini menarik.”
Penampilan mereka yang dikemas dengan acara bernyanyi bersama dan masuknya lagu-lagu dengan aransemen kontemporer setelah pertunjukan klasik tidaklah tanpa tujuan. Hollerung mengatakan ini bertujuan untuk menarik minat penonton.
”Saya berpendapat bahwa saat ini kehidupan musik klasik di negara ini tidak kuat. Karenanya, penyelenggara tidak memaksakan musik klasik di keseluruhan pertunjukan sehingga mereka bisa menikmati dan berminat untuk terus hadir dalam konser,” kata Hollerung.
Pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Meski gerakan tidak terlalu kentara, tapi perkembangan musik klasik di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Belakangan ini, di beberapa konser klasik dalam bentuk opera dan konser musik, ruangan dipadati penonton. Konser NSO ini salah satu buktinya.
07:46 Posted in Event Review | Permalink | Comments (0) | Email this