23/05/2008
Akhir Perebutan Batu Puteh
Pulau Batu Puteh dalam penamaan Malaysia, atau Pedra Branca dalam penamaan Singapura telah menjadi rebutan selama bertahun-tahun antara kedua negara. Hari ini (23/05/2008), Pengadilan Internasional memenangkan Singapura untuk kepemilikan atas pulau tersebut.
Meski Johor, salah satu propinsi di Malaysia yang pertama kali menamakan pulau itu, namun pengadilan tetap menetapkan Singapura sebagai pemiliknya. Alasannya sederhana. Malaysia mengabaikan (no action at all) pulau itu selama lebih dari seabad.
Perebutan pulau dimulai tahun 1980-an ketika Malaysia memasukkan pulau tersebut dalam peta terbarunya. Beberapa kali pertemuan bilateral antara kedua negara untuk menyelesaikan perselisihan mengenai pulau menemui jalan buntu.
Batu Puteh memiliki posisi maritim yang strategis yang menjadi alasan kuat untuk kedua negara berambisi untuk memilikinya. Namun tentu saja, sang pemilik bukan saja orang yang menemukannya, atau menamakannya, tapi terlebih lagi adalah yang mengurusnya.
04:36 Posted in Articles | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: Pulau, Batu Puteh, Singapura, Malaysia
14/05/2008
Mencari tempat belajar yang aman
Senin pagi menjadi hari terakhir bagi He Xinghao pergi ke sekolah, remaja berusia 15 tahun yang bersekolah di Sekolah Menengah Juyuan di China. Bukan karena dia tak mampu membayar sekolah seperti banyak anak Indonesia, tapi dia menjadi salah satu korban yang tertimpa reruntuhan bangunan sekolahnya ketika gempa berkekuatan 7.8 skala Richter menghantam Sichuan Senin pukul 14.28 waktu setempat. Tubuhnya sudah tak bernyawa ketika dia dikeluarkan beberapa jam kemudian.
”Dia anak yang baik. Dia selalu mengerjakan PR nya,” kata Ge Mi, bibi dari He Xinghao, dengan air mata terurai di wajahnya.
Bukan hanya He Xinghao yang menjadi korban dari salah satu bencana terbesar di Cina. Ribuan murid di beberapa sekolah di Cina menjadi tak berhasil menyelamatkan diri dari puing-puing bangunan yang menimpa mereka. Di sekolah dasar di Dujiangyan, lebih dari seratus orang terkubur di reruntuhan sekolah. Di bagian utara provinsi Sichuan, tepatnya di sekolah menengah Beichuan, lebih dari seribu murid sekolah dan guru mati dan hilang.
Banyak orang tua yang berhasil meloloskan diri ketika bencana terjadi namun kemudian berduka karena kehilangan anak-anak mereka. Seorang ayah masih mendengar anaknya memanggil-manggil minta tolong dari dalam reruntuhan. Tapi karena tidak ada bantuan, dia tidak berdaya membongkar reruntuhan bangunan sekolah sendiri. Anaknya sudah tak bernyawa ketika reruntuhan bangunan berhasil dibongkar.
Di antara banyak anak yang menjadi korban, Yang Juan teman sekolah dari He Xinghao, berhasil meloloskan diri. Dia keluar dari kelasnya di lantai tiga ketika bangunan mulai bergoncang.
”Ibu guru memerintahkan kami bergegas turun dan keluar,” kata Yang. Namun tak banyak yang beruntung seperti Yang Juan.
Tempat Belajar yang Aman
Ketika orang tua melepas anak ke sekolah, tentunya tak setitik harapan agar anaknya celaka. Namun demikian, seringkali justru sekolah lalai menjaga kepercayaan orang tua yang menitipkan anak-anak mereka untuk memperoleh pendidikan.
Yang terjadi di Juyuan memang masalah teknis. Bangunan diperkirakan tidak dibangun dengan konstruksi yang aman.
”Saya tahu kenapa sekolah runtuh. Sekolah itu dibangun dengan asal-asalan. Ada orang yang hendak mencatut uangnya,” kata salah seorang tua yang berdiri di luar sekolah.
Di Indonesia, kasus sekolah runtuh bukan yang pertama. Ada banyak cerita, terutama dari daerah, bangunan-bangunan sekolah yang tanpa bencana pun sudah lapuk dan runtuh dengan sendirinya. Kasus anak yang tertimpa bangunan pun bukannya tak ada. Tapi siapa pun yang berwenang untuk memperbaikinya mengabaikan keselamatan anak-anak sekolah. Belum lama ini, atap SDN 02 Tambun Bekasi runtuh ketika kuli bangunan sedang memasang genteng. Konstruksi bangunan tak kokoh menjadi alasannya. Untungnya kejadian atap runtuh yang sudah dua kali di sana tidak menimbulkan korban siswa sekolah.
Bukan saja masalah bangunan. Sekolah pun seringkali menutup mata terhadap ketidakamanan yang terjadi. Sebutlah yang belakangan ini menjadi tren ”Bullying”. Akhir tahun lalu, lima orang siswa SMA 34 Jakarta dikeluarkan dari sekolah untuk tindakan kekerasan ini.
Dengan alasan siswa yang banyak yang harus diawasi, sekolah menghindari kewajiban untuk memberikan rasa aman dalam proses belajar mengajar. Meski tak mampu mengawasi anak-anak belajar, mereka melarang orang tua masuk dalam sekolah yang mungkin bisa membantu pengawasan terhadap anak-anak.
Selain itu, kasus penculikan siswa sekolah belakangan ini juga tidak sedikit. Ada yang terekspos oleh media massa seperti penculikan Raisyah (5 tahun) namun ada juga yang tidak.
Salah seorang teman saya diculik dari depan sekolahnya di SMP Strada Marga Mulya ketika dia baru saja hendak beranjak pulang. Setelah dipaksa naik ke kendaraan yang digunakan penculik, dia dibawa ke salah satu bangunan tertutup. Untungnya, anak ini kemudian berhasil meloloskan diri dan menghubungi orang tuanya.
Sulit memang mencari sekolah yang berkualitas baik untuk pengajaran, namun juga bisa memberikan rasa aman bagi anak yang belajar dan bagi orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah.
Mungkin kita perlu memasang iklan ini : Dicari. Sekolah yang gurunya tidak galak, bisa mengajar dengan baik,bebas bullying, bebas dari narkoba, bebas dari penculik dan bangunannya dijamin tak runtuh.
07:05 Posted in Articles | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: Sekolah aman, bangunan sekolah
10/05/2008
Flying Free
10 May 2008, you're now flying free towards The God you had served faithfully up to the finish line. Your life was a song that you had sang beautifully. I remember you asked me several times to accompany you singing "Flying Free" at GPIB Paulus. Now I understand why you like this song so much. This song is so you. You finally found the place you call your own and fly there like a bird, with no pain. So farewell Erina. May you rest in peace. See you "up there" one day.
Flying FreeThere is a place I call my own
Where I can stand by the sea,
And look beyond the things I've known,
And dream that I might be free.
Like the bird above the trees
Gliding gently on the breeze,
I wish that all my life I'd be
Without a care and flying free!
--
But life is not a distant sky
Without a cloud, without rain.
And I can never hope that I
Can travel on without pain
--
Time goes swiftly on its way,
All too soon we've lost today.
I cannot wait for skies of blue
Or dream so long that life is through.
--
So life's a song that I must sing,
A gift of love I must share .
And when I see the joy it brings,
My spirits soar through the air.
Like that bird up in the sky ,
Life has taught me how to fly.
For now I know what I can be
And now my heart is flying free!
06:30 Posted in Music | Permalink | Comments (0) | Email this | Tags: Flying Free, Erina Tobing

