« Flying Free | HomePage | Akhir Perebutan Batu Puteh »
14/05/2008
Mencari tempat belajar yang aman
Senin pagi menjadi hari terakhir bagi He Xinghao pergi ke sekolah, remaja berusia 15 tahun yang bersekolah di Sekolah Menengah Juyuan di China. Bukan karena dia tak mampu membayar sekolah seperti banyak anak Indonesia, tapi dia menjadi salah satu korban yang tertimpa reruntuhan bangunan sekolahnya ketika gempa berkekuatan 7.8 skala Richter menghantam Sichuan Senin pukul 14.28 waktu setempat. Tubuhnya sudah tak bernyawa ketika dia dikeluarkan beberapa jam kemudian.
”Dia anak yang baik. Dia selalu mengerjakan PR nya,” kata Ge Mi, bibi dari He Xinghao, dengan air mata terurai di wajahnya.
Bukan hanya He Xinghao yang menjadi korban dari salah satu bencana terbesar di Cina. Ribuan murid di beberapa sekolah di Cina menjadi tak berhasil menyelamatkan diri dari puing-puing bangunan yang menimpa mereka. Di sekolah dasar di Dujiangyan, lebih dari seratus orang terkubur di reruntuhan sekolah. Di bagian utara provinsi Sichuan, tepatnya di sekolah menengah Beichuan, lebih dari seribu murid sekolah dan guru mati dan hilang.
Banyak orang tua yang berhasil meloloskan diri ketika bencana terjadi namun kemudian berduka karena kehilangan anak-anak mereka. Seorang ayah masih mendengar anaknya memanggil-manggil minta tolong dari dalam reruntuhan. Tapi karena tidak ada bantuan, dia tidak berdaya membongkar reruntuhan bangunan sekolah sendiri. Anaknya sudah tak bernyawa ketika reruntuhan bangunan berhasil dibongkar.
Di antara banyak anak yang menjadi korban, Yang Juan teman sekolah dari He Xinghao, berhasil meloloskan diri. Dia keluar dari kelasnya di lantai tiga ketika bangunan mulai bergoncang.
”Ibu guru memerintahkan kami bergegas turun dan keluar,” kata Yang. Namun tak banyak yang beruntung seperti Yang Juan.
Tempat Belajar yang Aman
Ketika orang tua melepas anak ke sekolah, tentunya tak setitik harapan agar anaknya celaka. Namun demikian, seringkali justru sekolah lalai menjaga kepercayaan orang tua yang menitipkan anak-anak mereka untuk memperoleh pendidikan.
Yang terjadi di Juyuan memang masalah teknis. Bangunan diperkirakan tidak dibangun dengan konstruksi yang aman.
”Saya tahu kenapa sekolah runtuh. Sekolah itu dibangun dengan asal-asalan. Ada orang yang hendak mencatut uangnya,” kata salah seorang tua yang berdiri di luar sekolah.
Di Indonesia, kasus sekolah runtuh bukan yang pertama. Ada banyak cerita, terutama dari daerah, bangunan-bangunan sekolah yang tanpa bencana pun sudah lapuk dan runtuh dengan sendirinya. Kasus anak yang tertimpa bangunan pun bukannya tak ada. Tapi siapa pun yang berwenang untuk memperbaikinya mengabaikan keselamatan anak-anak sekolah. Belum lama ini, atap SDN 02 Tambun Bekasi runtuh ketika kuli bangunan sedang memasang genteng. Konstruksi bangunan tak kokoh menjadi alasannya. Untungnya kejadian atap runtuh yang sudah dua kali di sana tidak menimbulkan korban siswa sekolah.
Bukan saja masalah bangunan. Sekolah pun seringkali menutup mata terhadap ketidakamanan yang terjadi. Sebutlah yang belakangan ini menjadi tren ”Bullying”. Akhir tahun lalu, lima orang siswa SMA 34 Jakarta dikeluarkan dari sekolah untuk tindakan kekerasan ini.
Dengan alasan siswa yang banyak yang harus diawasi, sekolah menghindari kewajiban untuk memberikan rasa aman dalam proses belajar mengajar. Meski tak mampu mengawasi anak-anak belajar, mereka melarang orang tua masuk dalam sekolah yang mungkin bisa membantu pengawasan terhadap anak-anak.
Selain itu, kasus penculikan siswa sekolah belakangan ini juga tidak sedikit. Ada yang terekspos oleh media massa seperti penculikan Raisyah (5 tahun) namun ada juga yang tidak.
Salah seorang teman saya diculik dari depan sekolahnya di SMP Strada Marga Mulya ketika dia baru saja hendak beranjak pulang. Setelah dipaksa naik ke kendaraan yang digunakan penculik, dia dibawa ke salah satu bangunan tertutup. Untungnya, anak ini kemudian berhasil meloloskan diri dan menghubungi orang tuanya.
Sulit memang mencari sekolah yang berkualitas baik untuk pengajaran, namun juga bisa memberikan rasa aman bagi anak yang belajar dan bagi orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah.
Mungkin kita perlu memasang iklan ini : Dicari. Sekolah yang gurunya tidak galak, bisa mengajar dengan baik,bebas bullying, bebas dari narkoba, bebas dari penculik dan bangunannya dijamin tak runtuh.
07:05 Posted in Articles | Permalink | Email this

