« Orangtua dan pemanasan global | HomePage | Flying Free »
25/04/2008
Suara Malaikat dari Ambon
DSC01458.JPGNamanya Frans. Tingginya tak sampai semeter. Wajahnya yang khas Ambon dengan kulit gelap dan rambut ikal memancarkan senyum polosnya. Dia bergoyang ke kanan dan ke kiri sambil bernyanyi.
Di sekitarnya, puluhan anak dengan etnis yang sama namun dengan postur yang jauh lebih tinggi menyenandungkan lagu terkenal Josh Groban; ”You raise me up, so I can stand on mountain; You raise me up to stand on stormy seas; I’m strong when I’m on your shoulder; You raise me up to more than I can be.”
Voice of Angel bukan sekedar nama “tempelan” untuk mereka. Kelompok anak ini memiliki suara indah bukan sekedar polesan sekolah vokal. Mereka memiliki suara alamiah dengan timbre daerah yang kental. Tinggi dan bersih bak suara malaikat.
Pada Jumat (25/04) siang mereka mengisi di Ibadah Perayaan Paskah Mahkamah Agung dan Peradilan RI di GPIB Immanuel, Gambir. Beberapa lagu mereka nyanyikan, seperti Wonderful Day, Satukan Kami Tuhan dan This is the Day. Semua lagu dibawakan dengan hafal dan dengan gerakan.
Tapi bukan sekedar suara indah yang membuat orang-orang (termasuk laki-laki) meneteskan air mata ketika mereka bernyanyi. Justru kisah latar belakang mereka yang merenyuhkan hati.
Ke-43 anak yang tinggal di Yayasan Pniel Bintaro ini berasal dari Ambon. Mereka adalah para korban kerusuhan yang kehilangan keluarga karena meninggal atau karena terpencar tak jelas rimbanya.
Salah seorang pendamping yayasan menyatakan bahwa ada di antara mereka yang menyaksikan keluarganya dibantai di depan matanya. Mereka melarikan diri dan bersembunyi. Ada relawan yang tergerak dan kemudian mencari anak-anak yang sudah tak berkeluarga ini. Sebagian dari mereka masih bersembunyi di hutan-hutan yang tak mudah dijangkau.
Mereka dibawa ke Jakarta dan dikumpulkan di Yayasan Pniel dan diupayakan untuk kembali dibawa ke kehidupan normal dengan sekolah kembali. Namun masalah tak semudah itu selesai. Mereka dibawa pergi dari kampung halamannya, tempat di mana sebelumnya mereka tumbuh dengan damai, dengan luka hati yang mendalam.
Kehilangan orangtua dan keluarga tidak mudah untuk mereka atasi. Apalagi ketika mereka harus berada di tengah sekolah negeri di Jakarta yang multi kelompok. Sakit hati pada kelompok tertentu tak begitu saja dipulihkan dan membuat mereka suka menjaga jarak sosial dengan teman-temannya.
Yayasan mencari cara jalan untuk mencarikan aktivitas untuk menyembuhkan luka batin mereka. Terapi musik menjadi pilihan untuk mengalihkan perasaan terluka karena kehilangan keluarga dan trauma kerusuhan. Tiap hari mereka berlatih bersama dan seringkali sampai tengah malam. Namun mereka menikmati kebersamaan dan latihan-latihan tersebut. Suara alamiah mereka yang pada dasarnya memang indah menjadi semakin terasah dengan latihan rutin. Nyanyian menjadi obat yang manjur. Perlahan, normalitas hidup mulai kembali pada mereka.
Latar belakang hidup mereka ini yang mungkin menjadikan mereka benar-benar tampak menghayati lagu-lagu yang mereka bawakan. Seolah itulah memang pernyataan perasaan yang terdalam. Hampir semua lagu yang mereka bawakan bertemakan kesatuan, kasih sayang sesama manusia, perdamaian dan ungkapan syukur pada Tuhan bahwa meski tak memiliki orang tua mereka tetap memiliki Tuhan (Tuhan Ganti Papa Deng Mama).
Keberadaan mereka di tengah-tengah Paskah Mahkamah Agung memang seperti pengingat. Pengingat bahwa dalam kondisi apa pun mereka tetap memiliki Tuhan yang selalu memberikan harapan dan tetap berpikir positif mengenai hidup dan mengasihi sesama.
Menyambung lagu mereka, Pdt. Pandjaitan memulai khotbahnya bagai para praktisi hukum Indonesia dengan menyatakan ”Adakah senandung suara malaikat yang indah (Voice of Angel) menggerakkan kita untuk bangkit melayani, menegakkan kebenaran di tengah masyarakat?”
Di dunia di mana kebenaran semu kelompok-kelompok tertentu ada di permukaan, mereka malaikat pengingat bahwa hakekat dari kebenaran adalah untuk perdamaian hidup bersama.
Camelia Pasandaran
06:05 Posted in Articles | Permalink | Email this

