« Ujian SIM A Jakarta | HomePage | Suara Malaikat dari Ambon »
24/04/2008
Orangtua dan pemanasan global
“Global Warming? Itu bukan hal yang penting. Kalau anak-anak kita pergi dengan bus tanpa AC, maka anak-anak kita yang akan kena polusi.”
Kata-kata ini diucapkan oleh seorang Ibu di SD Strada Wiyatasana Pejaten Rabu (23/04) siang, ketika sedang membahas mengenai rencana kepergian siswa kelas IV untuk karyawisata ke beberapa tempat di Jakarta.
Ibu ini mengenakan celana panjang dengan bahan beludru coklat. Dia mengenakan jaket tebal dan kacamata hitam. Dari penampilannya, terlihat jelas bahwa Ibu ini berusaha menampilkan diri untuk masuk dalam kategori golongan berada. Dan yang tampak jelas, tak mungkin Ibu ini bepergian ke mana-mana dengan bus kota atau mobil tanpa AC.
”Pikirkan dong keamanan anak-anak. Nanti kalau mereka mengeluarkan kepalanya dari jendela bagaimana? Belum lagi sekarang musim hujan. Kalau hujan, jendela mesti ditutup dan busnya akan menjadi pengap. Kasihan mereka. Nanti malah pada sakit semua,” lanjut Ibu itu berapi-api.
Tidak kalah pamor, seorang Ibu muda lainnya menyambung “Iyalah. Yang penting kenyamanan anak-anak. Satu dua bus kan tidak berpengaruh terhadap polusi.”
Salah seorang koordinator kelas menimpali “Iya, kami akan segera menghadap kepala sekolah dan meminta dia untuk mengganti busnya menjadi bus AC. Kalau memang sekolah tidak punya anggaran, biar nanti orang tua yang menalangi.”
Rencana karyawisata siswa kelas IV ini ternyata memang menjadi pembahasan ramai di sekolah itu. Guru yang mengkoordinir acara ini menyatakan alasan yang masuk akal untuk menggunakan bus tanpa AC.
“Anak-anak kelas IV di pelajaran IPA dan IPS sedang dididik untuk memiliki kepekaan terhadap global warming. Jadi rencana saya, pada hari itu, saya bisa mengatakan pada mereka ‘Anak-anak, hari ini kita lebih ramah terhadap bumi,’” papar sang Ibu Guru.
Penjelasan ini tidak bisa diterima oleh ibu-ibu yang berkeras menghendaki anak-anak mereka naik bus AC. Mereka pun menghadap kepala sekolah. Sayangnya, Kepala Sekolah ini punya sikap yang tidak konsisten dengan rencana edukasi dari guru koordinator karyawisata kelas IV.
”Saya rasa bukan global warming yang jadi pertimbangan. Ini memang masalah anggaran kok. Tapi kalau Ibu-ibu bisa mencarikan jalan keluar tanpa harus membebani orangtua, ya silakan saja kalau mau mengganti dengan Bus AC,” tutur Ibu Kepala Sekolah.
Para Ibu ini dengan wajah puas keluar dari ruangan Kepala Sekolah. Mereka kemudian merundingkan bagaimana mengatur dengan guru yang mengkoordinir karyawisata dan agen perjalanan yang digunakan.
Sulit untuk membayangkan hasil dari pendidikan mengenai global warming di sekolah bila tidak didukung oleh keluarga yang mau membuka mata lebar-lebar untuk menyadari bahwa dunia ini masih akan ditempati oleh anak cucu yang akan sengsara bila bumi ini tidak dipelihara.
Bukan hal yang terlalu sulit untuk memerangi emisi dan berbagai bentuk polutan yang dihasilkan oleh negara-negara industri. Yang justru lebih sulit adalah memerangi keegoisan orang-orang (yang menyebut diri orang tua) untuk sedikit saja mengurangi derajat kenyamanan demi keberlangsungan lingkungan yang cukup layak untuk tetap ditinggali manusia.
Sama sulitnya untuk juga memerangi orang yang berpikir bahwa apa yang dilakukannya tidaklah cukup signifikan untuk mengurangi global warming. Orang seperti ini tidak memperhitungkan akumulasi dari tindakan banyak individu yang berpikiran sama piciknya.
Dalam hal ini, pendidikan mengenai global warming mungkin lebih baik diarahkan dulu untuk generasi tua yang akan mewariskan sikap mereka terhadap alam pada generasi muda.
Ketika orang tua memikirkan soal kenyamanan anak-anak yang akan berkaryawisata, mungkin anak-anak tersebut justru malah tidak peduli apakah bus yang mereka tumpangi ber-AC atau tidak. Yang penting bagi mereka justru mungkin bepergian bersama teman-teman ke berbagai obyek yang dikunjungi.
Pada usia rata-rata sembilan dan sepuluh tahun, mereka juga tidaklah cukup bodoh untuk mengeluarkan kepala mereka keluar jendela. Sehingga kekuatiran para ibu tadi sesungguhnya hanyalah cerminan dari pemikiran dangkal yang tak bisa melihat bahaya global yang jauh lebih besar yang sudah ada di depan mata.
Mungkin di sekolah perlu ada kelas tambahan untuk orang tua untuk mereka mengikis keegoisan mereka dan membuka kepekaan mereka terhadap lingkungannya.
07:25 Posted in Articles | Permalink | Email this

