15/01/2008
Opera Cinta Seniman Bohemian
Camelia Pasandaran
“Betapa dinginnya tangan mungil ini, biarkan aku menghangatkannya. Apa yang kau cari, gadis? Dalam gelap kita tak kan menemukannya. Tetapi beruntung ini malam bulan purnama, dan di sini bulan itu dekat kita”
Rodolfo (Charles Nasution), sang penyair, menyanyikan lagu ini untuk Mimi (Christine T. Lubis), seorang penjahit yang tinggal di kota Paris pada malam Natal tahun 1830.
Lagu yang mengawali kisah cinta mereka menjadi salah satu lagu terkenal dari opera karya Giacomo Puccini yang berjudul La Boheme yang dipentaskan oleh Susvara Opera Company diiringi Twilight Youth Orchestra di Gedung Kesenian Jakarta, 4-5 Desember lalu.
Opera yang terkenal dengan kompleksitas dan keindahan lagunya ini mengisahkan mengenai percintaan Mimi dan Rodolfo. Kehidupan mereka dihangatkan oleh pertemanan akrab dengan Colline (filsuf), Schaunard (musisi), Marcello (pelukis) dan pacarnya Musetta.
Babak pertama mengisahkan kehidupan mereka sebagai rakyat jelata. Namun mereka selalu bisa mengakali kesulitan hidup seperti membuat pemilik apartemen mabuk sehingga lupa menagih uang sewa. Begitu sang pemilik apartemen pergi, mereka pun merayakan Natal bersama dengan minum-minum di Cafe Momus. Di sinilah Rodolfo dan Mimi menyanyikan duet mereka yang terkenal O Soave Fanciulla (wahai gadis cantik).
Di Cafe Momus, justru cerita lebih banyak berfokus pada kehidupan cinta Musetta dan Marcello. Musetta berupaya memancing kecemburuan Marcello mantan pacarnya dengan datang bersama Alcindoro, seorang kaya raya. Di sini Musetta (Anastasya P. Suryaningtyas) membawakan aria waltz-nya yang berjudul Quando m’en vo’ per la via (Disaat aku sedang berjalan seorang diri) yang mengisahkan betapa banyak orang mengagumi Musetta. Mereka pun saling melempar sindiran satu sama lain. Adedan ini berakhir dengan mereka berdua kembali bersama dan pelayan cafe yang memberikan tagihan minuman. Musetta dengan santainya mengatakan pada pelayan bahwa Alcindoro yang akan membayar. Alcindoro pingsan ketika tahu dia telah diperalat.
Keindahan cinta yang diwarnai dengan aria-aria panjang, duet, trio dan kuartet yang indah tidak berakhir lama. Mimi yang selama ini berupaya keras menyembunyikan sakitnya akhirnya tak lagi kuasa menahan sakitnya.
Mengawali babak ketiga, Mimi datang ke penginapan Marcello untuk menceritakan penderitaannya itu. Pada saat yang bersamaan, Rodolfo datang dan Mimi segera bersembunyi. Mimi mencuri dengar Rodolfo yang menyatakan kekuatirannya bila Mimi masih tinggal di loteng Rodolfo yang dingin dan lembab hanya akan membuat dia semakin sakit. Batuk Mimi menyadarkan Rodolfo bahwa Mimi bersembunyi di situ. Mimi keluar dan menyanyikan Donde lieta usci (tempat dimana kebahagiaan muncul). Mereka berpisah dengan menyanyikan Addio dolce svegliare (selamat tinggal, saat bangun tidur yang indah) dengan harapan bahwa pada musim semi mendatang mereka akan bersama lagi.
Babak penutup mengisahkan akhir hidup dari Mimi di loteng apartemen. Ditemani sahabat dan kekasihnya, dia menyanyikan aria Vecchia zimarra (wahai jubah tua) untuk jubahnya yang selama ini telah menemani dia dalam kesendiriannya. Setelah teman-temannya meninggalkan dia berdua saja dengan Rodolfo, Mimi menyampaikan perasaannya untuk terakhir kalinya: ”come il mare profonda ed infinita, sei il mio amor e tutta la mia vita” (seperti laut yang dalam dan abadi, kamu cintaku dan sepanjang hidupku).
Rangkaian musik melodrama ini diadaptasi dari novel karya Henry Murger yang berjudul Scene de la vie de boheme. Puccini menggubahnya menjadi opera dan dipentaskan pertama kali di Turin tahun 1869. Opera ini membuat Puccini dikenal sebagai komposer opera karena kelengkapan operanya yang terdiri dari empat babak, sejalan dengan empat bagian dari sebuah simfoni yang penuh dengan semua karya terbaik Puccini.
Catharina W. Leimena, pengarah artistik untuk pertunjukan ini memilih La Boheme karena keindahan karya ini. ”La Boheme merupakan salah satu karya yang luar biasa. Musiknya dibuat khusus untuk musik pertunjukkan. Saya tertantang untuk mencoba meski kesulitannya banyak. Opera ini terdiri jalinan dari melodi yang berat dan kompleks.”
Susvara Opera Company di bawah bimbingannya, mempersiapkan opera ini sejak April 2007. Ini adalah pementasan opera mereka yang digarap secara matang setelah sempat berkesperimen dengan menyanyikan penggalan opera karya Mozart dalam Cactch a Glimpse of Mozart’s Opera dan pada awal tahun ini mementaskan opera Fidelio karya Beethoven yang ceritanya telah dipersingkat.
Ivonne Atmojo, praktisi pendidikan musik, yang menonton pertunjukkan tersebut mengaku gembira menyaksikan pertunjukan karya Susvara ini.
“Seluruh pertunjukan sangat menyatu, mulai dari tata cahaya, panggung, pemain dan orkestranya. Untuk ukuran Indonesia , pertunjukan mereka sempurna,” kata Ivonne.
Ia juga menilai Twilight Youth Orchestra yang mengiringi pertunjukan di bawah pimpinan Eric Awuy telah memberikan musik yang prima. Meski Ivonne masih beberapa kali mendengar kesalahan dalam permainan musik, namun untuk sebuah orkestra yang belum lama berkembang orkestra ini sudah cukup baik penampilannya.
Christine Lubis, juga terlihat sangat baik memerankan tokoh Mimi meski dia sendiri mengaku cukup sulit memainkan opera ini. “Ada banyak hal yang harus diperhatikan di sini. Bukan sekedar menyanyi saja, tapi juga acting, (stage) blocking dan mendengarkan orkestra. Ini semua memerlukan konsentrasi yang tinggi.”
Charles, sang pemeran Rodolfo justru melihat tantangan opera ini ada pada lagu-lagunya. “Puccini itu merupakan komposer era klasik akhir, jadi karya diperuntukan untuk penyanyi-penyanyi yang mempunyai teknik vocal tertentu. Saya agak gugup takut nada-nada tingginya tidak sampai. Ini adalah opera Puccini yang paling sulit di antara opera yang lain dengan teknik musik yang tinggi.”
Sebagai penyanyi berpengalaman, secara vokal tentunya mereka tidak menemukan masalah besar dalam membawakan karya Puccini. Yang justru menjadi hambatan adalah faktor bahasa dimana libretto yang dinyanyikan semuanya dalam bahasa Italia. Masalah yang sama ketika Susvara membawakan opera Fidelio dalam bahasa Jerman.
“Mereka masih terdengar beraksen (Indonesia ). Greget Italia belum keluar. Yang sulit ketika bernyanyi bukan sekedar teknik vokal, tapi pelafalan kata. Meski tidak mempelajari bahasa setidaknya pemain harus bisa belajar membawakannya dengan pelafalan yang benar,” kata Ivonne mengomentari teknik mereka.
Opera dalam bahasa Italia ini juga menjadi kesulitan tersendiri bagi penonton yang tak menguasai bahasa daratan Eropa itu. Untungnya Susvara sudah mengantisipasi dengan menghadirkan seniman dan aktris kawakan, Jajang C. Noer, yang membawakan narasi pertunjukan di tiap awal adegan.
Penonton pun sangat antusias merespon opera ini. Beberapa hari menjelang pertunjukan, tiket untuk dua hari pertunjukan sudah terjual habis. Tradisi opera yang belum banyak berkembang di Indonesia memang membuatLa Boheme daya tarik yang luar biasa.
Paling tidak, warga Jakarta yang minim pertunjukan opera klasik yang berkualitas bisa menikmatinya di dua malam itu dan hanyut dalam rangkaian musik yang menarasikan indahnya cinta dan penderitaan, seperti yang dituturkan Puccini: “If only I could find my subject, a subject full of passion and pain.”
07:51 Posted in Event Review | Permalink | Comments (0) | Email this


The comments are closed.