Camelia Pasandaran
Investor Daily
”Ayo bernyanyi bersama. Jangan kuatir dengan tempo, karena saya akan memimpin kalian.”
Gábor Hollerung, dirigen konser bertajuk Christmas Celebration mengajak seluruh penonton untuk bernyanyi bersama dengan paduan suara diiringi Nusantara Symphony Orchestra.
“Pertama-tama, saya ingin kalian mencoba Silent Night,” ujarnya. Lalu dia mulai menggerakan tongkatnya dan memimpin penonton bernyanyi bersama. Lagu belum berakhir ketika dia memberhentikan penonton dan mengatakan “inilah bedanya penyanyi profesional dan amatir,” sambil menunjuk penonton dan paduan suara bergantian dengan tongkat dirigennya. Penonton pun tertawa.
Hollerung tidak menyerah. Dia lalu mengajak penonton menyanyikan Auld Lang Syne dengan iringan NSO yang bergaya jazz. Lagi-lagi dia menghentikannya dan mengatakan ”Ini tidak cocok. Kalian harus bisa menyanyikannya dengan ritme jazz.” Ketika diulang kembali, penonton mulai bisa mengikutinya dan Hollerung menyatakan ”good rythmic!”
Tidak sampai di situ, dia kembali melatih penonton menyanyikan lagu negro spiritual Mary Had a Baby. Kali ini, dia mengajak penonton memainkan peran yang berbeda. “Imagine a black fat girl singing this song.” Dia pun mencontohkannya dengan menyanyi bak penyanyi dari daratan Afrika dengan suara berat dan keras.
Penonton pun mulai hanyut dalam latihan untuk bernyanyi bersama dalam konser. Seperti pertunjukan musik pop, penonton pun ikut terbawa suasana dan menyanyikan lagu tersebut dengan gaya negro spiritual.
Konser seperti ini mungkin jauh dari bayangan para penonton ketika pertama kali menghadiri konser Nusantara Symphony Orchestra hari Senin lalu di Grand Ballroom Hotel Mulia. Di spanduk dan buku acara tertera nama sebuah oratorio terkenal karya komponis Italia G.F. Handel, The Messiah dan International Christmas Carol.
Ketika konser mulai di awal dengan lagu-lagu oratorio The Messiah, tidak ada tanda-tanda bahwa konser akan berubah suasana dengan drastis. Suasana kemegahan dari oratorio Handel membangun suasana yang sangat khidmat.
The Messiah, karya yang meski sangat terkenal dan sudah ribuan kali di mainkan di berbagai panggung dunia, bukanlah suatu oratorio yang mudah. Meski diciptakan hanya dalam waktu 24 hari oleh Handel, oratorio spiritual ini memerlukan teknik yang memadai dari para pemain orchestra dan paduan suara yang terlatih untuk bisa membawakannya dengan baik.
”Semua tuntutan teknik untuk orkestra harus mendukung. Ini tidak mudah, walau diulang beberapa kali. Meski mementaskan The Messiah adalah seperti bertemu dengan teman lama, ada beberapa hal yang harus dilatih kembali,” papar Edward Van Nes, dirigen tetap dari NSO.
Penampilan mereka memang membuktikan hasil kerja keras. Yang sungguh layak untuk dipuji adalah komposisi suara yang menyatu dengan sangat baik. Tidak ada instrumen yang terlalu dominan.
Tiga paduan suara Nusantara Choir, Twilight Chorus dan Indonesia Youth-Cordana Choir terlihat sempurna membawakan lagu-lagu naratif dalam oratorio yang megah ini. Keindahan oratorio dilengkapi dengan kehadiran empat orang solois, soprano Binu D. Sukaman, Mezzo Soprano Anna Koor Chooi Choo, penyanyi tenor Ndaru Darsono dan penyanyi bas Harland P. Hutabarat.
Ketika lagu terkenal dalam oratorio ini Halleluyah-chorus dibawakan sebagai penutup bagian pertama, seorang penonton sempat berkomentar ”seperti mendengar paduan suara malaikat dari surga.” Tidak berlebihan memang komentarnya, karena memang penampilan mereka sangat prima. Handel pasti sangat bangga melihat bagaimana karyanya dipentaskan dengan begitu megahnya.
Lepas dari bagian pertama, penonton diberikan kejutan. Lagu-lagu magnificat karya Bach dibawakan dengan aransemen ulang gaya jazz. Tidak ada masalah dengan gaya lagunya, kecuali bahwa drum yang begitu mendominasi sehingga menenggelamkan nyanyian paduan suaranya.
Bagian dengan musik yang keras ini tidak berlangsung lama. Tiga saja lagu Bach yang dibawakan dan kemudian berganti bagian International Christmas Carol. Di awal bagian inilah Hollerung melatih penonton untuk menyanyi bersama.
Belasan lagu Natal tradisional yang terkenal dibawakan di sini. Suasana menjadi sangat meriah ketika di beberapa bagian dirigen membalikkan punggungnya dan menyanyikan tiga lagu-lagu yang sudah dilatih di awal.
Bagian ini dikemas dengan kreatif. Musik yang dibawakan pun sangat dinamis. Bunyi-bunyian perkusif seperti bunyi bel memberikan efek yang baik pada beberapa lagu seperti Silent Night, What Child is This dan Deck the Hall. Iringan alat musik gesek yang mengalun panjang mengiring O Tannenbaum (O Christmas Tree). Sebuah lagu Advent Veni Veni Emmanuel dilantunkan dengan gaya klasik. Pada lagu Auld Lang Syne malah dibuat kanon antara paduan suara di panggung dengan penonton.
Di berbagai lagu tersebut para solois juga ikut mengisi, seperti pada lagu Ala Huella, Alla Huella, Mary Had a Baby dan What Child is This.
Bagian terakhir ini ditutup dengan empat lagu berturut-turut Venite Adoremus, Nowell, Nowell, We Wish You A Merry Christmas dan Joy to the World.
”Encore! Encore!” seruan penonton yang meminta lagu tambahan disambut dengan Halleluyah-chorus yang dinyanyikan dengan aransemen yang lebih ringan.
Keterlibatan aktif penonton dalam konser ini memang membuat penonton terlihat sangat menikmati konser. Menurut Van Nes, bagian sing along ini tidak dipersiapkan.
”Itu spontanitas. Kira-kira lima menit sebelum pertunjukkan, Miranda (Goeltom) datang pada saya dan mengusulkan bagaimana kalau sing along? Kami memilih tiga lagu.”
Tapi ide sing along ini menurut dirigen tamu Gábor Hollerung adalah positif sebagai bagian dari edukasi dan menarik penonton konser.
”Saya percaya bahwa penonton memiliki mental yang berbeda jika mereka menjadi bagian dari konser. Jangan dilupakan bahwa konser sebagai sebuah institusi tidaklah terlalu tua. Sebelumnya, orang bernyanyi bersama-sama. Baru sekitar 700 tahun yang lalu tradisi konser berjalan. Ada komposer, ada yang menginterpretasikan, ada penonton yang membeli tiket dan mendengarkan musik,” tutur Hollerung.
Lebih lanjut dia mengatakan bahwa hal ini tidak alamiah. ”Penonton bisa menjadi bagian dari konser dan memahami konser yang sedang berlangsung. Mungkin awalnya terlihat seperti sebuah lelucon tapi ini menarik.”
Penampilan mereka yang dikemas dengan acara bernyanyi bersama dan masuknya lagu-lagu dengan aransemen kontemporer setelah pertunjukan klasik tidaklah tanpa tujuan. Hollerung mengatakan ini bertujuan untuk menarik minat penonton.
”Saya berpendapat bahwa saat ini kehidupan musik klasik di negara ini tidak kuat. Karenanya, penyelenggara tidak memaksakan musik klasik di keseluruhan pertunjukan sehingga mereka bisa menikmati dan berminat untuk terus hadir dalam konser,” kata Hollerung.
Pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Meski gerakan tidak terlalu kentara, tapi perkembangan musik klasik di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Belakangan ini, di beberapa konser klasik dalam bentuk opera dan konser musik, ruangan dipadati penonton. Konser NSO ini salah satu buktinya.


The comments are closed.