14/05/2008

Mencari tempat belajar yang aman

be9352485c61d56f621855e6dcc7b1d2.jpgSenin pagi menjadi hari terakhir bagi He Xinghao pergi ke sekolah, remaja berusia 15 tahun yang bersekolah di Sekolah Menengah Juyuan di China. Bukan karena dia tak mampu membayar sekolah seperti banyak anak Indonesia, tapi dia menjadi salah satu korban yang tertimpa reruntuhan bangunan sekolahnya ketika gempa berkekuatan 7.8 skala Richter menghantam Sichuan Senin pukul 14.28 waktu setempat.  Tubuhnya sudah tak bernyawa ketika dia dikeluarkan beberapa jam kemudian.

            ”Dia anak yang baik.  Dia selalu mengerjakan PR nya,” kata Ge Mi, bibi dari He Xinghao, dengan air mata terurai di wajahnya.

            Bukan hanya He Xinghao yang menjadi korban dari salah satu bencana terbesar di Cina. Ribuan murid di beberapa sekolah di Cina menjadi tak berhasil menyelamatkan diri dari puing-puing bangunan yang menimpa mereka. Di sekolah dasar di Dujiangyan, lebih dari seratus orang terkubur di reruntuhan sekolah. Di bagian utara provinsi Sichuan, tepatnya di sekolah menengah Beichuan, lebih dari seribu murid sekolah dan guru mati dan hilang.

            Banyak orang tua yang berhasil meloloskan diri ketika bencana terjadi namun kemudian berduka karena kehilangan anak-anak mereka. Seorang ayah masih mendengar anaknya memanggil-manggil minta tolong dari dalam reruntuhan.  Tapi karena tidak ada bantuan, dia tidak berdaya membongkar reruntuhan bangunan sekolah sendiri. Anaknya sudah tak bernyawa ketika reruntuhan bangunan berhasil dibongkar.

            Di antara banyak anak yang menjadi korban, Yang Juan teman sekolah dari He Xinghao, berhasil meloloskan diri. Dia keluar dari kelasnya di lantai tiga ketika bangunan mulai bergoncang.

            ”Ibu guru memerintahkan kami bergegas turun dan keluar,” kata Yang. Namun tak banyak yang beruntung seperti Yang Juan.

 

Tempat Belajar yang Aman

Ketika orang tua melepas anak ke sekolah, tentunya tak setitik harapan agar anaknya celaka.  Namun demikian, seringkali justru sekolah lalai menjaga kepercayaan orang tua yang menitipkan anak-anak mereka untuk memperoleh pendidikan.

            Yang terjadi di Juyuan memang masalah teknis. Bangunan diperkirakan tidak dibangun dengan konstruksi yang aman.

            ”Saya tahu kenapa sekolah runtuh.  Sekolah itu dibangun dengan asal-asalan.  Ada orang yang hendak mencatut uangnya,” kata salah seorang tua yang berdiri di luar sekolah.    

            Di Indonesia, kasus sekolah runtuh bukan yang pertama. Ada banyak cerita, terutama dari daerah, bangunan-bangunan sekolah yang tanpa bencana pun sudah lapuk dan runtuh dengan sendirinya. Kasus anak yang tertimpa bangunan pun bukannya tak ada.  Tapi siapa pun yang berwenang untuk memperbaikinya mengabaikan keselamatan anak-anak sekolah. Belum lama ini, atap SDN 02 Tambun Bekasi runtuh ketika kuli bangunan sedang memasang genteng.  Konstruksi bangunan tak kokoh menjadi alasannya.  Untungnya kejadian atap runtuh yang sudah dua kali di sana tidak menimbulkan korban siswa sekolah.

            Bukan saja masalah bangunan.  Sekolah pun seringkali menutup mata terhadap ketidakamanan yang terjadi. Sebutlah yang belakangan ini menjadi tren ”Bullying”. Akhir tahun lalu, lima orang siswa SMA 34 Jakarta dikeluarkan dari sekolah untuk tindakan kekerasan ini.

Dengan alasan siswa yang banyak yang harus diawasi, sekolah menghindari kewajiban untuk memberikan rasa aman dalam proses belajar mengajar. Meski tak mampu mengawasi anak-anak belajar, mereka melarang orang tua masuk dalam sekolah yang mungkin bisa membantu pengawasan terhadap anak-anak.

            Selain itu, kasus penculikan siswa sekolah belakangan ini juga tidak sedikit.  Ada yang terekspos oleh media massa seperti penculikan Raisyah (5 tahun) namun ada juga yang tidak.

            Salah seorang teman saya diculik dari depan sekolahnya di SMP Strada Marga Mulya ketika dia baru saja hendak beranjak pulang. Setelah dipaksa naik ke kendaraan yang digunakan penculik, dia dibawa ke salah satu bangunan tertutup.  Untungnya, anak ini kemudian berhasil meloloskan diri dan menghubungi orang tuanya.

            Sulit memang mencari sekolah yang berkualitas baik untuk pengajaran, namun juga bisa memberikan rasa aman bagi anak yang belajar dan bagi orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah.

            Mungkin kita perlu memasang iklan ini : Dicari. Sekolah yang gurunya tidak galak, bisa mengajar dengan baik,bebas bullying, bebas dari narkoba, bebas dari penculik dan bangunannya dijamin tak runtuh.

 

07:05 Permalink | Comments (0) | Email this

10/05/2008

Flying Free

To Erina Tobing:

10 May 2008, you're now flying free towards The God you had served faithfully up to the finish line. Your life was a song that you had sang beautifully. I remember you asked me several times to accompany you singing "Flying Free" at GPIB Paulus. Now I understand why you like this song so much. This song is so you. You finally found the place you call your own and fly there like a bird, with no pain. So farewell Erina. May you rest in peace. See you "up there" one day.

Flying Free

There is a place I call my own

Where I can stand by the sea,

And look beyond the things I've known,

And dream that I might be free.

Like the bird above the trees

Gliding gently on the breeze,

I wish that all my life I'd be

Without a care and flying free!

--

But life is not a distant sky

Without a cloud, without rain.

And I can never hope that I

Can travel on without pain

--

Time goes swiftly on its way,

All too soon we've lost today.

I cannot wait for skies of blue

Or dream so long that life is through.

--

So life's a song that I must sing,

A gift of love I must share .

And when I see the joy it brings,

My spirits soar through the air.

Like that bird up in the sky ,

Life has taught me how to fly.

For now I know what I can be

And now my heart is flying free!

06:30 Posted in Music | Permalink | Comments (0) | Email this

25/04/2008

Suara Malaikat dari Ambon

DSC01458.JPGNamanya Frans.  Tingginya tak sampai semeter. Wajahnya yang khas Ambon dengan kulit gelap dan rambut ikal memancarkan senyum polosnya. Dia bergoyang ke kanan dan ke kiri sambil bernyanyi.

            Di sekitarnya, puluhan anak dengan etnis yang sama namun dengan postur yang jauh lebih tinggi menyenandungkan lagu terkenal Josh Groban; ”You raise me up, so I can stand on mountain; You raise me up to stand on stormy seas; I’m strong when I’m on your shoulder; You raise me up to more than I can be.”

            Voice of Angel bukan sekedar nama “tempelan” untuk mereka. Kelompok anak ini memiliki suara indah bukan sekedar polesan sekolah vokal.  Mereka memiliki suara alamiah dengan timbre daerah yang kental. Tinggi dan bersih bak suara malaikat.

            Pada Jumat (25/04) siang mereka mengisi di Ibadah Perayaan Paskah Mahkamah Agung dan Peradilan RI di GPIB Immanuel, Gambir.  Beberapa lagu mereka nyanyikan, seperti Wonderful Day, Satukan Kami Tuhan dan This is the Day. Semua lagu dibawakan dengan hafal dan dengan gerakan.

            Tapi bukan sekedar suara indah yang membuat orang-orang (termasuk laki-laki) meneteskan air mata ketika mereka bernyanyi.  Justru kisah latar belakang mereka yang merenyuhkan hati.

            Ke-43 anak yang tinggal di Yayasan Pniel Bintaro ini berasal dari Ambon.  Mereka adalah para korban kerusuhan yang kehilangan keluarga karena meninggal atau karena terpencar tak jelas rimbanya.

            Salah seorang pendamping yayasan menyatakan bahwa ada di antara mereka yang menyaksikan keluarganya dibantai di depan matanya.  Mereka melarikan diri dan bersembunyi. Ada relawan yang tergerak dan kemudian mencari anak-anak yang sudah tak berkeluarga ini.  Sebagian dari mereka masih bersembunyi di hutan-hutan yang tak mudah dijangkau.

            Mereka dibawa ke Jakarta dan dikumpulkan di Yayasan Pniel dan diupayakan untuk kembali dibawa ke kehidupan normal dengan sekolah kembali. Namun masalah tak semudah itu selesai.  Mereka dibawa pergi dari kampung halamannya, tempat di mana sebelumnya mereka tumbuh dengan damai, dengan luka hati yang mendalam.

Kehilangan orangtua dan keluarga tidak mudah untuk mereka atasi. Apalagi ketika mereka harus berada di tengah sekolah negeri di Jakarta yang multi kelompok.  Sakit hati pada kelompok tertentu tak begitu saja dipulihkan dan membuat mereka suka menjaga jarak sosial dengan teman-temannya.

            Yayasan mencari cara jalan untuk mencarikan aktivitas untuk menyembuhkan luka batin mereka. Terapi musik menjadi pilihan untuk mengalihkan perasaan terluka karena kehilangan keluarga dan trauma kerusuhan. Tiap hari mereka berlatih bersama dan seringkali sampai tengah malam. Namun mereka menikmati kebersamaan dan latihan-latihan tersebut.   Suara alamiah mereka yang pada dasarnya memang indah menjadi semakin terasah dengan latihan rutin. Nyanyian menjadi obat yang manjur. Perlahan, normalitas hidup mulai kembali pada mereka.

            Latar belakang hidup mereka ini yang mungkin menjadikan mereka benar-benar tampak menghayati lagu-lagu yang mereka bawakan.  Seolah itulah memang pernyataan perasaan yang terdalam. Hampir semua lagu yang mereka bawakan bertemakan kesatuan, kasih sayang sesama manusia, perdamaian dan ungkapan syukur pada Tuhan bahwa meski tak memiliki orang tua mereka tetap memiliki Tuhan (Tuhan Ganti Papa Deng Mama).

            Keberadaan mereka di tengah-tengah Paskah Mahkamah Agung memang seperti pengingat.  Pengingat bahwa dalam kondisi apa pun mereka tetap memiliki Tuhan yang selalu memberikan harapan dan tetap berpikir positif mengenai hidup dan mengasihi sesama.

            Menyambung lagu mereka, Pdt. Pandjaitan memulai khotbahnya bagai para praktisi hukum Indonesia dengan menyatakan ”Adakah senandung suara malaikat yang indah (Voice of Angel) menggerakkan kita untuk bangkit melayani, menegakkan kebenaran di tengah masyarakat?”

            Di  dunia di mana kebenaran semu kelompok-kelompok tertentu ada di permukaan, mereka malaikat pengingat bahwa hakekat dari kebenaran adalah untuk perdamaian hidup bersama.

 

Camelia Pasandaran 

06:05 Posted in Articles | Permalink | Comments (0) | Email this

24/04/2008

Orangtua dan pemanasan global

“Global Warming? Itu bukan hal yang penting. Kalau anak-anak kita pergi dengan bus tanpa AC, maka anak-anak kita yang akan kena polusi.”
Kata-kata ini diucapkan oleh seorang Ibu di SD Strada Wiyatasana Pejaten Rabu (23/04) siang, ketika sedang membahas mengenai rencana kepergian siswa kelas IV untuk karyawisata ke beberapa tempat di Jakarta.
Ibu ini mengenakan celana panjang dengan bahan beludru coklat. Dia mengenakan jaket tebal dan kacamata hitam. Dari penampilannya, terlihat jelas bahwa Ibu ini berusaha menampilkan diri untuk masuk dalam kategori golongan berada. Dan yang tampak jelas, tak mungkin Ibu ini bepergian ke mana-mana dengan bus kota atau mobil tanpa AC.
”Pikirkan dong keamanan anak-anak. Nanti kalau mereka mengeluarkan kepalanya dari jendela bagaimana? Belum lagi sekarang musim hujan. Kalau hujan, jendela mesti ditutup dan busnya akan menjadi pengap. Kasihan mereka. Nanti malah pada sakit semua,” lanjut Ibu itu berapi-api.
Tidak kalah pamor, seorang Ibu muda lainnya menyambung “Iyalah. Yang penting kenyamanan anak-anak. Satu dua bus kan tidak berpengaruh terhadap polusi.”
Salah seorang koordinator kelas menimpali “Iya, kami akan segera menghadap kepala sekolah dan meminta dia untuk mengganti busnya menjadi bus AC. Kalau memang sekolah tidak punya anggaran, biar nanti orang tua yang menalangi.”
Rencana karyawisata siswa kelas IV ini ternyata memang menjadi pembahasan ramai di sekolah itu. Guru yang mengkoordinir acara ini menyatakan alasan yang masuk akal untuk menggunakan bus tanpa AC.
“Anak-anak kelas IV di pelajaran IPA dan IPS sedang dididik untuk memiliki kepekaan terhadap global warming. Jadi rencana saya, pada hari itu, saya bisa mengatakan pada mereka ‘Anak-anak, hari ini kita lebih ramah terhadap bumi,’” papar sang Ibu Guru.
Penjelasan ini tidak bisa diterima oleh ibu-ibu yang berkeras menghendaki anak-anak mereka naik bus AC. Mereka pun menghadap kepala sekolah. Sayangnya, Kepala Sekolah ini punya sikap yang tidak konsisten dengan rencana edukasi dari guru koordinator karyawisata kelas IV.
”Saya rasa bukan global warming yang jadi pertimbangan. Ini memang masalah anggaran kok. Tapi kalau Ibu-ibu bisa mencarikan jalan keluar tanpa harus membebani orangtua, ya silakan saja kalau mau mengganti dengan Bus AC,” tutur Ibu Kepala Sekolah.
Para Ibu ini dengan wajah puas keluar dari ruangan Kepala Sekolah. Mereka kemudian merundingkan bagaimana mengatur dengan guru yang mengkoordinir karyawisata dan agen perjalanan yang digunakan.
Sulit untuk membayangkan hasil dari pendidikan mengenai global warming di sekolah bila tidak didukung oleh keluarga yang mau membuka mata lebar-lebar untuk menyadari bahwa dunia ini masih akan ditempati oleh anak cucu yang akan sengsara bila bumi ini tidak dipelihara.
Bukan hal yang terlalu sulit untuk memerangi emisi dan berbagai bentuk polutan yang dihasilkan oleh negara-negara industri. Yang justru lebih sulit adalah memerangi keegoisan orang-orang (yang menyebut diri orang tua) untuk sedikit saja mengurangi derajat kenyamanan demi keberlangsungan lingkungan yang cukup layak untuk tetap ditinggali manusia.
Sama sulitnya untuk juga memerangi orang yang berpikir bahwa apa yang dilakukannya tidaklah cukup signifikan untuk mengurangi global warming. Orang seperti ini tidak memperhitungkan akumulasi dari tindakan banyak individu yang berpikiran sama piciknya.
Dalam hal ini, pendidikan mengenai global warming mungkin lebih baik diarahkan dulu untuk generasi tua yang akan mewariskan sikap mereka terhadap alam pada generasi muda.
Ketika orang tua memikirkan soal kenyamanan anak-anak yang akan berkaryawisata, mungkin anak-anak tersebut justru malah tidak peduli apakah bus yang mereka tumpangi ber-AC atau tidak. Yang penting bagi mereka justru mungkin bepergian bersama teman-teman ke berbagai obyek yang dikunjungi.
Pada usia rata-rata sembilan dan sepuluh tahun, mereka juga tidaklah cukup bodoh untuk mengeluarkan kepala mereka keluar jendela. Sehingga kekuatiran para ibu tadi sesungguhnya hanyalah cerminan dari pemikiran dangkal yang tak bisa melihat bahaya global yang jauh lebih besar yang sudah ada di depan mata.
Mungkin di sekolah perlu ada kelas tambahan untuk orang tua untuk mereka mengikis keegoisan mereka dan membuka kepekaan mereka terhadap lingkungannya.

07:25 Posted in Articles | Permalink | Comments (0) | Email this

15/04/2008

Ujian SIM A Jakarta

Membaca beberapa berita mengenai pemutihan SIM di Jakarta awalnya membuat saya berpikir, seberapa susah sih membuat SIM A di Jakarta?

Jadi, setelah beberapa bulan mengemudi tanpa SIM saya bepikir “it’s time to have one.”

Jadi saya pergi ke UI dan melihat jadwal SIM kolektif. Ternyata SIM kolektif itu sudah tidak ada. Yang ada SIM dari Sekolah Mengemudi dan tetap harus melalui ujian.

Sabtu lalu, saya pergi ke Samsat di Kalideres dan benar-benar mengikuti ujian untuk membuat SIM. Ujian teori tidak terlalu sulit. Ujian langsung di komputer. Soalnya 30.
Ada beberapa rambu yang memang jarang terlihat di jalanan. Selain itu soal2 umum mengenai lalu lintas. Soalnya memang banyak jebakan. Kalau tidak berhati-hati bisa salah menjawab. Tapi saya pikir ini hanya soal logika.

Setelah selesai menjawab soal ke 30, hasil langsung keluar di monitor. Untuk bisa lulus harus bisa menjawab dengan benar minimal 12 soal. Dan saya lulus. Dari delapan orang teman yang berangkat bersama dari UI, 6 diantaranya tidak lulus ujian teori.

Setelah itu langsung menuju ke tempat praktek. Kendaraan yang digunakan adalah Kijang kapsul yang sepertinya memerlukan servis karena suaranya menggerung dan kasar sekali. Selain itu juga ada Kijang Pick-Up. Saya menggunakan Avanza dari Sekolah Mobil di mana saya mendaftar untuk SIM. (Thanks God).

Ketika ujian praktek, salah seorang peserta mengalami kesulitan dengan Kijang yang digunakan. Kijang itu mudah sekali mati bila gasnya tidak ditekan, bahkan bila kopling diinjak penuh. Artinya, mobil yang digunakan memang tak layak untuk dikemudikan.

Tapi mungkin logikanya seperti ini : seorang yang bisa menggunakan mobil yang rusak pastilah seorang pengemudi yang handal yang memang layak memperoleh SIM. 

Dibandingkan dengan ujian praktek motor, ujian praktek mobil tidak ada apa-apanya. Saya rasa mungkin karena keterbatasan waktu, maka tidak semua point yang seharusnya diuji dilakukan. Saya hanya diminta berkeliling, belok (dengan permintaan mendadak), jalan lurus .... benar-benar tidak ada tantangan apa pun. Saya rasa seorang pengemudi yang baru belajar pun bisa melakukannya.

Lepas dari sini, kemudian menanti di depan loket-loket untuk foto. Dipanggil ke loket sembilan untuk mengambil berkas lalu menuju tempat foto dan sidik jari. Setelah foto, tidak sampai lima menit, SIM sudah keluar. Semudah itu ...

03:08 Posted in Blog | Permalink | Comments (0) | Email this

21/03/2008

New English Daily in Jakarta

The Jakarta Morning Observer is an embryo for the upcoming English newspaper in Jakarta published by Lippo Group under its media umbrella group : Globe Media. The Jakarta Morning Observer started to publish daily (Monday-Saturday) since November 2007 as a supplement for Suara Pembaruan and Investor Daily.

A reliable source says recently that this supplement has been affecting the class readership of Suara Pembaruan. He quotes Nielsen media research, there has been a significant growth in “A” class readers. Some subscribers complained when they didn’t receive the supplement. Meantime, with its great attraction, some agents sell the supplement – that suppose to be free – separately.

The Jakarta Morning Observer mostly covers economic and politic issues around the globe. It comprises of eight pages. Page one and two cover global headlines. The other pages cover issues from China (3), East Asia (4), ASEAN (5), Middle East (6), Europe (7) and USA (8). Weekend edition contains more featurized stories. Page one to three cover global headlines. The other pages are entertainment (4 and 5), Art (6), Science and Health (7) and Fashion (8).

The news are taken from six well-established wires : The Associated Press, Reuters, Agence France-Presse, Bloomberg, Xinhua and Antara.

To get the supplement, you have to subscribe Suara Pembaruan or Investor Daily.

10:20 Posted in Work | Permalink | Comments (0) | Email this

26/02/2008

Complete list of winners at the 80th annual Academy Awards

Best Motion Picture: No Country for Old Men.

Lead Actor: Daniel Day-Lewis, There Will Be Blood.

Lead Actress: Marion Cotillard, La Vie en Rose.

Supporting Actor: Javier Bardem, No Country for Old Men

Supporting Actress: Tilda Swinton, Michael Clayton

Director: Joel Coen and Ethan Coen, No Country for Old Men

Foreign Language Film: The Counterfeiters, Austria.

Adapted Screenplay: Joel Coen and Ethan Coen, No Country for Old Men

Original Screenplay: Diablo Cody, Juno

Animated Feature Film: Ratatouille

Art Direction: Sweeney Todd the Demon Barber of Fleet Street

Cinematography: There Will Be Blood

Sound Mixing: The Bourne Ultimatum

Sound Editing: The Bourne Ultimatum

Original Score: Atonement Dario Marianelli.

Original Song: Falling Slowly from Once, Glen Hansard and Marketa Irglova.

Costume: Elizabeth: The Golden Age

Documentary Feature: Taxi to the Dark Side

Documentary Short Subject: Freehel

Film Editing: The Bourne Ultimatum

Makeup: La Vie en Rose

Animated Short Film: Peter & the Wolf

Live Action Short Film: Le Mozart des Pickpockets (The Mozart of Pickpockets)

Visual Effects: The Golden Compass

11:05 Posted in Film | Permalink | Comments (0) | Email this

25/02/2008

Ketika harus membawa hewan peliharaan ke rumah sakit

Seorang teman saya tersenyum simpul ketika saya mengatakan bahwa saya hendak menjenguk anjing saya yang dirawat di Rumah Sakit Hewan Ragunan. Ini masih reaksi yang wajar.  Yang lain malah tertawa dan mengatakan “Yang benar saja?”  Ketika saya meyakinkan dia bahwa saya tidak berbohong, responsnya lagi “Seperti manusia saja.”

Ada yang lebih tercengang ketika saya mengatakan biaya pengobatan di rumah sakit yang telah mencapai 7 digit. Salah seorang merespon “Buang-buang uang saja. Anjing seperti itu dibuang saja.” 

Saya membeli anjing di tempat yang salah.  Di sekitar Menteng dimana berkumpul banyak sekali penjual anjing dan kucing.  Saya membeli seekor anak anjing yang menurut pengakuan penjualnya adalah Golden Retriever. Bila dia asli, ketimbang membeli di pet shop yang harganya jutaan, di sini masih berbunyi ratusan ribu.

Dua hari saja anak anjing itu di rumah dan dia mulai sakit.  Di sinilah saya kembali akrab dengan Pondok Pengayom Satwa. Letaknya tak jauh dari Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan.  Pondok Pengayom Satwa bukan rumah sakit, dia sebenarnya lebih berfungsi sebagai penampungan dan penitipan hewan.  Bila hendak bepergian untuk waktu yang lama, hewan peliharaan bisa dititipkan dan mereka akan mendapatkan perawatan yang layak. 

Di sini juga terdapat klinik.  Ke klinik itu tujuan saya. Setelah diagnosa bahwa anjing saya kemungkinan besar menderita parvo virus, anjing saya diputuskan untuk dirawat dan di infus.  Tidak mahal uang muka yang diberikan, sekitar Rp. 350.000,- untuk perkiraan perawatan tiga hari. Biaya perawatan per hari untuk anjing kecil Rp. 40.000,- (termasuk dokter dan makan).

Masuk hari Selasa dan anjing saya keluar hari Sabtu. Dia sudah kelihatan segar dan mau makan.  Sayangnya, setiba di rumah, dia kembali menunjukan gejala awal, muntah dan tak mau makan. 

Karena sudah sore dan Pondok Pengayom sudah tutup, saya membawanya ke rumah Sakit Hewan yang lokasinya di belakang Pondok Pengayom Satwa. Dokter di sana langsung memutuskan untuk dirawat di ruang isolasi. Kali ini, infusnya dijatah hanya ¼ botol sehari.

Harga di sini sedikit lebih tinggi.  Biaya perawatan per hari sekitar Rp. 70.000,-.  Jam jenguk sedikit lebih longgar.  Saya bisa mengunjunginya di malam hari. Selalu ada dokter hewan yang stand by 24 jam di sini, bahkan pada hari libur sekalipun. 

Di ruang isolasi, selain anjing saya, ada seekor anjing yang terinfeksi kencing tikus, distemper dan lainnya. Tiap kali saya berkunjung, saya bisa berkonsultasi dengan dokter mengenai perkembangan anjing saya. Dokter biasanya datang dengan lembar medical record (seperti di rumah sakit manusia) yang lengkap dengan data, jumlah makanan yang dimakan, buang air, suhu tubuh, muntah dan lain-lain.

Setelah seminggu, anjing saya diperbolehkan pulang.  Anjing yang awalnya diduga tak berumur lebih dari dua hari sejak sakit itu bertahan hidup dengan perawatan yang baik.  Dia sekarang sangat sehat dengan selera makan dan mobilitas yang sangat tinggi. 

Awalnya, saya agak pesimis, karena anjing saya sudah muntah dan buang air darah.  Dengan vonis bahwa penyakit ini tak ada obatnya (parvovirus hanya bisa dikalahkan oleh ketahanan tubuh), saya pikir bahwa dia akan “tidur” selamanya. Apalagi ketika pulang dari Pondok Pengayom dan dia kembali lemas dan tak mau makan dan minum, nyaris putus asa. Tiga hari dirawat di Rumah Sakit, kondisinya meningkat, tapi pada hari keempat dia kembali lemas dan suhu tubuhnya menurun sehingga dipasang lampu penghangat di kandang perawatannya.

Banyak orang memilih untuk membiarkan saja peliharaan yang sakit.  Bisa karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, atau bisa jadi karena cuek. 

Tunangan saya mengatakan seperti ini mengenai perawatan medis bagi hewan “Pada dasarnya, hewan hidup di alam dengan mekanisme pertahanan dirinya.  Dengan dia tinggal di rumah, dia menggantungkan hidup sepenuhnya pada kita.”

Hewan memang tak bisa membuat pilihan bagi dirinya sendiri untuk berobat ke rumah sakit atau tidak. Karena tidak mengerti, mereka mungkin malah akan memberontak ketika diobati (sama seperti anjing saya yang dengan sukses menggigiti infusnya sampai lepas). Manusia, tuan atau apalah namanya, yang kemudian sangat menentukan, apakah peliharaan tersebut bisa diupayakan untuk kembali sehat. 

Sekarang, meski masih kecil, anjing saya menyambut saya di depan pintu ketika saya pulang kantor malam hari.  Dia mengibaskan ekornya dengan cepat menandai bahwa dia senang melihat saya lagi.  Dan tiap kali melihatnya, saya senang bahwa saya dan tunangan saya memutuskan untuk memasukkan dia ke rumah sakit. Menurut kami, itulah pilihan yang paling bijak.

13:29 Posted in Pet | Permalink | Comments (0) | Email this

Alkitab Bahasa Indonesia untuk Pengguna Handphone

Beberapa teman saya pernah bertanya bagaimana saya bisa menemukan program Alkitab untuk Handphone Sony Erricson yang saya gunakan. Sejujurnya, sejak lama saya ingin mencari software Alkitab dalam Bahasa Indonesia.  Saya bertanya ke beberapa tempat yang menjual software handphone dan tetap tak bisa menemukan. Suatu hari, seperti saran salah satu tabloid handphone, saya membuka www.getjar.com dan menemukan banyak sekali program file jar untuk berbagai jenis handphone. Saya mencari dengan kata kunci Bible dan menemukan Alkitab versi King James. Meski waktu itu tak menemukan versi Bahasa Indonesia, saya sedikit terhibur, paling tidak saya sudah bisa meng instal nya di handphone saya. Secara tak sengaja, ketika saya membuka program itu, saya melihat website si pembuat software Alkitab untuk HP ini.  Ketika saya membukanya, ternyata di sana terdapat Alkitab (format jar) dalam berbagai bahasa, termasuk diantaranya berbahasa Indonesia. Saya download dan saya simpan di memory card handphone saya, file jar-nya. Program tersebut bisa berjalan dengan baik di Handphone (SE K750i) saya dan memiliki menu-menu yang cukup baik, seperti fasilitas pencarian, fasilitas sms ayat dan lain sebagainya. Untuk mempermudah pengiriman file ke handphone orang lain, bila mendownload dari internet, simpan file asli dalam bentuk jar.  Bila berminat, silakan download dari http://gobible.jolon.org/Collections/Indonesian/Go Bible Indonesian 2.2.zip. Setelah selesai didownload, file harus di extract untuk kemudian disimpan atau dikirim langsung ke handphone.

12:52 Posted in Technologyy | Permalink | Comments (0) | Email this

My Blog Viewer

sorted by day

ip-location

 

 

sorted by week

ip-location

sorted by month

ip-location

 

sorted by year

ip-location

 

10:55 Posted in Articles | Permalink | Comments (0) | Email this